Kematian Leon Trotsky

Leon Trotsky.

Leon Trotsky adalah seorang revolusioner besar abad ke-20, dibunuh oleh agen GPU Stalin pada Agustus 1940.

Trotsky terlibat dalam Revolusi Oktober, mendirikan Tentara Merah, menentang Stalinisme, dan mendirikan Quatrième Internationale.

Karyanya, seperti “Histoire de la Révolution Russe” dan “Littérature et révolution,” mencerminkan kontribusi essensialnya terhadap pemikiran dan strategi Marxisme.

Meskipun kritis terhadap beberapa keputusannya, seperti insiden Kronstadt, peran Trotsky sebagai salah satu revolusioner terbesar abad ke-20 tidak dapat disangkal.

Trotsky menunjukkan minatnya dalam seni dan sastra, khususnya melalui karyanya “Littérature et révolution.”

Pada 1938, Trotsky dan André Breton menulis Manifeste pour un Art Révolutionnaire Indépendant, sebuah dokumen yang mencerminkan inspirasi “marxiste libertaire.”

Pertemuan Trotsky dan Breton di Meksiko pada 1938, yang diselenggarakan oleh Pierre Naville, menggambarkan persilangan antara revolusioner dan surrealisme.

Meskipun perbedaan pandangan, pertemuan ini menciptakan hubungan menarik antara dua tokoh yang tampaknya berada di ujung spektrum revolusioner dan romantisme.

Kematian Trotsky

Pada masa Perang Dunia II, Trotsky menjadi sasaran utama oleh agen-agen Stalin yang ingin mencegahnya kembali berkuasa. Kekhawatiran Stalin terhadap potensi gerakan revolusioner akibat perang memperparah ancaman terhadap Trotsky.

Agen-agen Stalin menyusup ke dalam gerakan Trotskis dengan tujuan utama untuk membunuh Trotsky dan menghentikan perkembangan Quatrième Internationale. Beberapa agen Stalin yang menyusup ke dalam gerakan Trotskis termasuk Mark Zborowski, Sylvia Callen, dan Joseph Hansen.

Mark Zborowski (alias “Etienne”) membantu GPU dalam pembunuhan beberapa tokoh Trotskis dan keluarganya.

Pada 24 Mei 1940, Trotsky berhasil menghindari upaya pembunuhan yang dibantu oleh agen GPU di dalam pengawalannya, yaitu Robert Sheldon Harte.

Pada 20 Agustus 1940, ia diserang oleh agen GPU, Ramon Mercader, di rumahnya di Coyoacan, Mexico. Trotsky meninggal keesokan harinya sebagai akibat dari serangan tersebut.

Pengaruh Setelah Kematian

Pembunuhan Trotsky merupakan pukulan berat bagi sosialisme internasional dan kehilangan pemimpin terakhir dari tradisi marxisme klasik.

Trotsky, sebagai co-pemimpin Revolusi Oktober dan pendiri Quatrième Internationale, menonjol sebagai representatif terbesar gerakan revolusioner kelas pekerja.

Konsepsi teori revolusionernya berakar pada materialisme filosofis, menekankan pemahaman realitas objektif, dan fokus pada pendidikan serta mobilisasi politik kelas pekerja.

Trotsky menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap orang yang mencoba menghindari tanggung jawab politik di bawah bendera kebebasan pribadi.

Ia mengabaikan pandangan bahwa kekalahan kelas pekerja membuktikan kegagalan marxisme, menganggapnya sebagai hasil demoralisasi politik, bukan pemahaman teoritis.

Kritik terhadap marxisme sering kali merupakan upaya untuk menghindari konfrontasi dengan reaksi politik, dan Trotsky menilai bahwa para pengkritik ini menyerah pada pemikiran sosial ilmiah, kehilangan dasar material dan moral, dan mengorbankan klaim akan revolusi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *